![]() |
Ilustrasi. (Foto : Canva) |
BANKDARAH.COM - Transfusi darah adalah prosedur medis yang umum dilakukan untuk menggantikan darah yang hilang atau untuk mengatasi kondisi tertentu seperti anemia.
Namun, meskipun bermanfaat, prosedur ini tidak lepas dari risiko, salah satunya adalah reaksi transfusi darah.
Reaksi transfusi darah merupakan respons tubuh yang tidak diinginkan terhadap darah atau komponen darah yang ditransfusikan.
Jenis-Jenis Reaksi Transfusi Darah
Reaksi transfusi darah dapat dikategorikan berdasarkan waktu kemunculannya menjadi reaksi akut dan reaksi lambat (tertunda).
Selain itu, reaksi ini juga dapat dibedakan berdasarkan mekanisme terjadinya, yaitu imunologis dan non-imunologis.
Reaksi Transfusi Akut
Reaksi Hemolitik Akut: Terjadi ketika ada ketidakcocokan golongan darah antara donor dan penerima, menyebabkan penghancuran sel darah merah secara cepat. Gejalanya meliputi demam, nyeri dada, nyeri punggung, dan urine berwarna gelap. Reaksi ini dapat mengancam nyawa dan memerlukan penanganan segera.
Reaksi Non-Hemolitik Febril: Ditandai dengan demam dan menggigil tanpa adanya hemolisis (penghancuran sel darah merah). Biasanya disebabkan oleh antibodi penerima yang bereaksi terhadap leukosit atau sitokin dalam darah donor.
Reaksi Alergi: Gejalanya meliputi gatal-gatal, ruam kulit, dan dalam kasus yang parah, dapat menyebabkan anafilaksis. Reaksi ini terjadi akibat respons alergi terhadap protein plasma dalam darah donor.
Reaksi Transfusi Lambat (Tertunda)
Reaksi Hemolitik Tertunda: Muncul beberapa hari hingga minggu setelah transfusi. Gejalanya termasuk penurunan hemoglobin, demam ringan, dan jaundice (kulit dan mata menguning). Reaksi ini terjadi karena antibodi penerima yang bereaksi terhadap antigen minor pada sel darah merah donor.
Purpura Pasca Transfusi: Ditandai dengan trombositopenia (penurunan jumlah trombosit) yang terjadi 7-10 hari setelah transfusi, menyebabkan perdarahan di kulit dan mukosa.
Gejala Umum Reaksi Transfusi
Gejala reaksi transfusi dapat bervariasi tergantung pada jenis reaksinya, namun beberapa gejala umum yang perlu diwaspadai meliputi:
Demam dan menggigil
Nyeri dada atau punggung
Penurunan tekanan darah
Sesak napas
Ruam atau gatal-gatal pada kulit
Urine berwarna gelap
Mual atau muntah
Penanganan Reaksi Transfusi
Jika terjadi reaksi transfusi, langkah-langkah penanganan yang harus dilakukan antara lain:
Hentikan Transfusi: Segera hentikan transfusi begitu gejala muncul.
Evaluasi Pasien: Periksa tanda-tanda vital dan kondisi klinis pasien secara menyeluruh.
Pengobatan Simptomatik: Berikan obat-obatan sesuai dengan gejala yang muncul, seperti antihistamin untuk reaksi alergi atau antipiretik untuk demam.
Laporkan dan Investigasi: Laporkan kejadian reaksi transfusi ke bank darah atau unit transfusi untuk investigasi lebih lanjut dan pencegahan kejadian serupa di masa mendatang.
Penting bagi tenaga medis untuk selalu waspada terhadap kemungkinan reaksi transfusi dan melakukan pemantauan ketat selama dan setelah prosedur transfusi.
Edukasi kepada pasien mengenai tanda dan gejala reaksi transfusi juga sangat penting agar mereka dapat segera melaporkan jika mengalami gejala yang mencurigakan.***
Posting Komentar
Posting Komentar